Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
blog-img-10

PENGABDIAN SEBAGAI PUNCAK KEHIDUPAN MANUSIA

 

Syatiri Matrais

 

 

Tersebut dalam firman Allah pada surat al baqarah ayat 21 bahwa Allah memberikan perintah kepada manusia untuk mengabdi kepada-Nya. hal tersebut bukan karena Allah ingin disembah, karena keagungan Allah tidak akan bertambah dengan pujian dan sanjungan manusia kepada Nya, karena Allah Besar dan Maha Kuasa. juga kebesaran Nya tidak akan menjadi kecil dengan kemaksiatan yang dilakukan hamba-Nya. PErintah untuk mengabdi karena sebagai realisasi sebuah janji primordial manusia dengan Tuhannya ketika di alam ruh.

 

Dan ingatlah ketika tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung Nabi Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri ( seraya berfirman : Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi (kami melakukannya) agar pada hari kiamat tidak mengatakan: sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini. QS. Al A'raf : 172

 

Pengabdian ini dilakukan pada seluruh sendi kehidupan, baik sisi ibadah maupun muamalah. Hal tersebut agar keislaman seseorang menjadi kaffah, totalitas dalam menjalankan hidup, seimbang antara hubungan vertikal dengan hubungan horizontal. Keseluruhannya harus mencerminkan pengabdian yang sempurna.

 

Bagaimana wujud pengabdian tersebut menjadi pengabdian yang total? sebab itu manusia harus memiliki orientasi dalam hidupnya. Segala amal perbuatan yang dilakukan bukan sekedar pemenuhan kebutuhan diri dan duniawi. Melainkan segala perbuatan dan pekerjaannya harus berkualitas. Dalam arti bisa menjadi keuntungan besar pada dirinya di kehidupan dunia dan akhiratnya.

 

Lalu amal perbuatan dan pekerjaan yang bagaimana dikatakan berkualitas? Pada surat al mulk ditegaskan :

 

Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji manakah diantara kalian amal yang terbaik . Dialah Maha Agung lagi Maha Pengampun.

 

Perbuatan berkualitas dan bernilai dalam Islam adalah sesuatu yang mendatangkan manfaat dan kemanfaatan. manfaat untuk diri sendiri dan kemanfaatan untuk orang lain. Di sini seseorang dituntut untuk memberikan kebaikan sebagai kredit point pada dirinya. jika dikatakan orientasi hidup dengan jangka panjang dunia dan akhirat, maka orientasi perbuatan dan pekerjaan itu kepada  manfaat untuk diri dan orang lain.  Hadits nabi memberikan pernyataan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain. jadi puncak amal perbuatan adalah memberikan manfaat. itulah amal yang terbaik dan  amal yang bernilai.

 

Bagaimana mengemas amal perbuatan itu menjadi bernilai? pertama dengan kinerja yang produktif. Amal yang produktif adalah perbuatan yang dihasilkan dari diri sendiri dan bisa bermanfaat. itulah mengapa sahabat rasul bertanya kepada nabi, amal apa yang teristimewa, jawab nabi; usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan tangannya sendiri adalah amal yang paling utama. perbuatan atau amal yang produktif juga bisa memberikan kemanfaatan untuk orang lain yang bisa dirasakan dan dinikmati.

 

Selanjutnya sesuatu yang menjadikan amal terbaik adalah fokus terhadap perbuatan itu sendiri. Tidak ragu dan bimbang dalam menjalankan tugas atau pekerjaannya. Yakinkan diri bahwa usaha atau pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan yang terbaik, yang telah diberikan oleh Allah. Hanya persoalannya bagaimana pekerjaan itu menjadi baik tergantung seseorang bisa memanfaatkan pekerjaan itu.

 

Pekerjaan bisa bernilai jika dilakukan dengan istiqomah dengan konsistensi pada pekerjaan itu. jika keimanan seseorang dituntut untuk istiqomah, maka perbuatan pun dituntut istiqomah. Untuk menjadikan perbuatan itu terbaik maka dilakukan secara konsisten. Sebaik baik pekerjaan dilakukan secara terus menerus. Nabi pernah di tanyakan hal ini oleh sahabat yang ingin mendapatkan hal terbaik dari suatu perbuatannya. maka kata nabi : Berimanlah kepada Allah dan istiqomah dalam pekerjaan. inilah yang membuat pekerjaan bisa bernilai.

 

kembali kepada pengabdian, bahwa itu dilakukan agar menjadi insan yang takwa sebagai puncak perbuatan. Ketakwaan yang menjadi dasar dan ukuran kualitas seseorang dalam segala urusan dan pekerjaan. jika didasari dengan takwa, maka akan mendapatkan keuntungan yang banyak. Di antaranya : Allah akan berikan jalan keluar dari kesulitan. dan Allah datangkan rizki yang tidak terkirakan. Allah akan memudahkan segala urusannya dan Allah akan menghapus dosa yang telah dilakukannya dan dilipatgandakan amal kebaikannya.

 

Siapa yang bertakwa kepada Allah, akan diberikan jalan keluar dan dilimpahkan rizki yang tidak disangka. siapa yang bertawakal kepada Allah, maka itu sudah cukup bagi dirinya. sesungguhnya ALlah yang mengatur segala urusan. Allah mampu menjadikan sesuatu itu berharga.

 

Siapa yang bertakwa kepada Allah, segala urusannya akan dimudahkan.

 

Siapa yang bertakwa  kepada Allah, akan diharuskan segala kesalahan dan akan dilipatgandakan amal perbuatannya.

 

 Namun perlu disadari bahwa kehidupan yang dilakukan oleh seseorang tidak selalu berada di jalan yang lurus dan lancar. tetapi akan ada kerikil-kerikil yang mengganggu perjalanan itu. kerikil-kerikil itu dinamakan dengan UJIAN atau COBAAN. memang Allah telah mengingatkan bahwa seseorang tidak hanya dibiarkan degan berkata dirinya beriman. tetapi Allah akan datangkan ujian untuk membuktikan keimanannya, apakah dirinya istiqomah dalam keimanan atau dirinya beriman dalam kebohongan?

 

Kehidupan manusia yang dijalankan di dunia sebenarnya tidak lebih dari lima ujian. yaitu diuji dengan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa dan kekurangan makanan. sebagaimana Allah sebutkan dalam al Quran surat al baqarah ayat 155

 

Sungguh kami akan uji kalian dengan sesuatu rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa dan kekurangan makanan. berikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

 

Rasa takut pasti dirasakan setiap orang, meskipun berbeda bentuk dan macam rasa takutnya. rasa takut bukan saja naluri manusia, tetapi itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Rasa takut jika dibiarkan akan menjadikan diri tidak berpotensi, berkualitas dan pesimis. Oleh karena itu harus dilawan dengan kesabaran dan tindakan konkrit untuk mengusir rasa takut dalam diri.

 

Rasa lapar menjadi hal penting untuk disikapi. Rasa lapar bukan sekedar persoalan dengan perut, tetapi dibalik rasa lapar itu jika tidak disikapi dengan proporsional akan berdampak fatal dalam diri seseorang. Seperti Allah mewajibkan zakat kepada orang kaya dan diberikan kepada orang fakir. Hal ini untuk mengikis kelaparan yang terjadi pada orang fakir dan miskin, karena  orang yang terlalu lapar, dikhawatirkan bisa jadi kehilangan imannya.

 

Kehilangan jiwa sebuah ujian. kematian suatu hal yang pasti, maka kehilangan jiwa satu hal yang niscaya. tetapi banyak orang menyikapi salah tentang kematian. di saat terjadi kematian, orang banyak kehilangan kendali, menganggap kematian itu akhir dari segalanya. bahkan sampai berindikasi kemurtadan dan kesyirikan. seakan tidak menerima ujian kematian dan jika seseorang ditinggal kematian, maka dunia terasa “kiamat” karena kehilangan orang yang dicintai dan kehilangan sosok yang menjadi tumpuan tidak lagi menjadi tempat sandaran hidup.

 

Begitu juga tentang kekurangan sandang dan pangan dalam hidup, adalah ujian. di dunia ini hanya ada dua macam manusia. ada kaya dan miskin. bagi orang miskin diuji dengan kekurangan makanan. karena itu dituntut untuk bersikap qanaah dalam diri. Jika manusia sudah memiliki sifat qanaah, maka tidak akan terjadi kekurangan dalam dirinya. Sifat qanaah adalah sifat mulia sebagai rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan banyak atau sedikit nikmat itu adalah untuk disyukuri dan dinikmati.

 

agar selamat dari ujian-ujian tersebut maka harus dibungkus dengan sabar dan tawakal sebagai formulanya. Dua senjata ini akan menjadikan seseorang tangguh dan optimis dalam menjalankan kehidupannya. Orang yang sabar dan tawakal akan meyakini bahwa semua urusan di tangan Allah, Dia lah yang mengaturnya. Puncaknya kelima ujian tersebut akan berlalu dengan baik jika disikapi dengan sabar dan tawakal.

 

Siapa yang bertawakkal, cukuplah Allah baginya sebagai sandar. dan siapa yang bersabar akan dibalas dengan ganjaran yang tidak terkirakan. kedua formula ini dalam menghadapi ujian hidup harus dibungkus dengan sifat istirja’ yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah dengan tetap berusaha menjalankan hidup yang positif dan optimis.

 

Buah dari sifat Istirja’ ini akan didapatkan beberapa keuntungan diantaranya : Keberkahan, Ampunan Allah, Rahmat Allah dan Apresiasi dari Allah. inilah sebuah pengabdian manusia kepada Allah dengan kehidupannya yang berkualitas dan bermartabat. Semoga hidup kita mendapatkan keberkahan, ampunan, rahmat dan apresiasi dari Allah sebagai wujud pengabdian diri kepada Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta. wallahu A'lam. Barakallah….