Labbaikallah... Air Mata Haru Selimuti Pelepasan Tamu Allah KBIHU Nurul Qolbi di Pesantren Kanz El-Khair
BEKASI — Dinginnya embun pagi seolah mencair oleh kehangatan spiritual yang membuncah di Aula Pondok Pesantren Kanz El-Khair pada Sabtu, 16 Mei 2026. Hari itu bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan guratan takdir yang amat dinanti oleh ratusan jemaah. Isak tangis haru, pelukan erat perpisahan, dan gema talbiyah yang menggetarkan dada, menyatu dalam acara Pelepasan Jemaah Haji Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Nurul Qolbi.
Ratusan jemaah yang mengenakan seragam batik khas berwarna biru cerah berpadu rompi krem tampak duduk khusyuk. Wajah-wajah mereka memancarkan aura keteduhan sekaligus ketegangan yang suci. Mereka sadar, beberapa langkah lagi, kaki mereka akan menginjak tanah tempat wahyu diturunkan. Mereka bukan lagi sekadar warga biasa, melainkan Dhuyufurrahman—tamu-tamu yang dipilih langsung oleh Allah SWT untuk bertamu ke rumah-Nya, Baitullah.
Panggilan Ibrahim yang Menggetarkan Jiwa
Acara dimulai tepat pukul 08.00 WIB. Ruangan aula yang luas itu mendadak senyap saat untaian ayat suci Al-Qur’an mulai dilantunkan. Ayat-ayat tentang syariat haji dibacakan dengan begitu indah, mengingatkan semua yang hadir tentang asal-usul panggilan agung ini. Haji bukanlah tentang siapa yang kaya atau siapa yang mampu secara materi semata, melainkan tentang siapa yang hatinya telah digerakkan oleh Allah untuk menyambut seruan Nabi Ibrahim AS ribuan tahun silam.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 27:
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.”
Mendengar ayat ini, tidak sedikit jemaah yang menyeka air mata dengan sapu tangan mereka. Menunggu antrean keberangkatan selama bertahun-tahun, melewati masa-masa pandemi, hingga akhirnya bisa berdiri di ambang pintu keberangkatan pada tahun 2026 ini, adalah sebuah mukjizat kesabaran yang nyata bagi masing-masing jemaah.
Pesan Pengasuh: Meluruskan Niat, Menjemput Predikat Mabrur
Di podium utama, tampak layar besar menampilkan tulisan "JAMA'AH HAJI" yang menjadi latar belakang khidmat. Pimpinan sekaligus perwakilan dari KBIHU Nurul Qolbi memberikan untaian nasihat dan pembekalan terakhir yang sangat menyentuh hati. Beliau menegaskan bahwa perjalanan haji adalah perjalanan ruhani, bukan wisata duniawi. Oleh karena itu, modal utama yang harus dibawa bukanlah uang riyal yang melimpah, melainkan ketakwaan dan keikhlasan hati.
Beliau kemudian mengutip QS. Al-Baqarah ayat 197:
"Ingat bapak-ibu sekalian, di sana nanti ego kita akan dikikis habis. Kita akan berkumpul dengan jutaan manusia dari berbagai belahan dunia dengan satu pakaian yang sama: kain ihram putih tanpa jahitan. Tidak ada pejabat, tidak ada orang kaya, tidak ada orang miskin. Semua sama merunduk di hadapan Allah. Jaga lisan, jaga hati, jangan mengeluh, dan jangan berdebat," pesan beliau dengan suara yang bergetar penuh penekanan.
Tujuan akhir dari semua lelah, peluh, dan air mata ini tidak lain adalah meraih predikat haji yang mabrur. Sebuah predikat yang jaminannya langsung datang dari lisan suci Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana termaktub dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
“Haji yang mabrur itu tidak ada balasan yang pantas baginya kecuali surga.”
Suasana Aula: Antara Harapan, Keteguhan, dan Kekompakan
Jika melihat ke sudut-sudut aula, pemandangan mengharukan tersaji begitu nyata. Di barisan jemaah wanita, terlihat para ibu saling membetulkan letak kerudung dan bertukar senyum penguat. Di barisan pria, para bapak tampak saling menepuk pundak, memberikan semangat. Mereka yang awalnya tidak saling kenal, kini telah diikat oleh tali persaudaraan yang begitu erat berkat bimbingan intensif yang mereka lalui bersama di KBIHU Nurul Qolbi.
Di barisan kursi undangan, tampak hadir para tokoh agama, perwakilan dari Kementerian Agama setempat, serta keluarga besar Pondok Pesantren Kanz El-Khair yang ikut melepas dengan doa-doa terbaik mereka. Kehadiran para santri yang berdiri di luar aula sembari melantunkan sholawat badar semakin menambah magis dan sakralnya atmosfer pelepasan pagi itu.
Salah seorang perwakilan jemaah, saat diberikan kesempatan menyampaikan kesan dan pesan, tidak mampu menahan laju air matanya. "Kami memohon maaf kepada seluruh guru, pembimbing, dan keluarga jika selama masa manasik ada tutur kata kami yang salah. Tolong doakan kami agar diberikan kesehatan fisik yang prima, karena haji adalah ibadah fisik. Doakan kami kembali ke tanah air dengan selamat dan membawa perubahan iman yang lebih baik," ujarnya terbata-bata yang disambut seruan "Aamiin" serentak dari seluruh penjuru aula.
Fisik dan Ruhani: Meneladani Keteguhan Rasulullah
Ibadah haji memang unik. Ia adalah perpaduan antara ibadah maliyah (harta) dan badaniyah (fisik). Berjalan berkilo-kilo meter di bawah terik matahari makkah yang menyengat saat mabit di Mina, wukuf di Arafah, hingga thowaf dan sa'i, membutuhkan ketahanan tubuh yang luar biasa. Oleh karena itu, dalam sesi pembekalan terakhir ini, jemaah kembali diingatkan untuk menjaga pola makan, istirahat yang cukup, dan saling menjaga satu sama lain. Rasulullah SAW bersabda mengenai pentingnya menjaga sesama muslim dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh membiarkannya (dalam kesulitan), dan tidak boleh merendahkannya.”
KBIHU Nurul Qolbi menekankan bahwa jemaah dalam satu rombongan harus bergerak bagaikan satu tubuh. Jika ada jemaah yang lansia atau kelelahan, jemaah yang lebih muda dan kuat wajib membantu. Prinsip ta'awun (tolong-menolong) inilah yang akan mempermudah jalannya ibadah di tanah suci nanti.
Puncak Acara: Gema Talbiyah, Isak Haru, dan Doa Keberangkatan
Memasuki penghujung acara, tibalah saat yang paling menguras emosi: pembacaan doa pelepasan dan pengumandangan kalimat Talbiyah secara bersama-sama. Dipimpin oleh seorang ulama sepuh, seluruh jemaah dan hadirin berdiri.
Ketika kalimat itu mulai diucapkan, suasana aula langsung pecah oleh tangisan:
“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Kalimat yang ringkas, namun memiliki daya magis yang luar biasa. Kalimat itulah yang menjadi tiket ruhani mereka untuk melepaskan segala atribut dunia dan berserah diri total kepada Sang Pencipta. Suami memeluk istrinya, anak mencium tangan orang tuanya yang akan berangkat, dan para guru memberikan pelukan hangat penuh berkah. Ada rasa rindu yang teramat dalam yang akhirnya akan segera terobati di depan Ka'bah nanti.
Acara kemudian ditutup dengan bersalam-salaman sebagai simbol saling memaafkan dan melepas kepergian. Satu per satu jemaah berjalan keluar aula menuju bus yang telah bersiap, diiringi lambaian tangan dan doa yang terus mengalir dari keluarga yang ditinggalkan.
Selamat jalan, wahai para jemaah KBIHU Nurul Qolbi. Selamat menunaikan ibadah haji tahun 2026. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi setiap jengkel langkah kaki kalian, memberikan kemudahan dalam setiap rukun dan wajib haji, serta membawa kalian kembali ke tanah air dengan predikat Haji yang Mabrur dan Mabrurah.
Barakallahu fikum, Fi Amanillah!
Redaksi: Media Center Nurul Qolbi

















.png)